hari ini bangun jam 5 pagi. setelah menenangkan pikiran, sy memutuskan untuk jogging.
lari pagi keliling-keliling. Hal yg sudah berbulan-bulan tidak saya lakukan.
segar sekali rasanya bisa menghirup udara jam 6 pagi, dan melihat sisi lain dari pemukiman sekitar. Biasanya cuman lihat dijam 8 pagi, atau malam hari. Jam 6 pagi, memberikan kesan tersendiri.
seusai jogging, sy berkeliling ke pasar tradisional.
Pasar tradisional ini penuh dengan pedagang2 yg memulai hari mereka, di kala mentari masih belum menyingsing.
satu hal yg saya suka dari pasar tradisional adalah energinya. Setiap orang aktif bergerak. Ada yg datang dari jauh, membawa hasil kebunnya. Aroma sayur-mayur segar yg baru saja dipetik juga semerbak. Tentu tidak ketinggalan amis dari ikan dan daging yg dijual. Melihat giatnya para pedagang di pasar, membuat saya bersyukur dan juga bersemangat memulai hari.
Selama ini sarapan biasanya menu 7-11. Pagi ini sy coba-coba sarapan klasik ala pasar tradisional. Bubur+Ubi jalar, dan dua potong tahu, sambil menyimak berita BBC.
Olahraga, mengamati lingkungan sekitar, mencermati kehidupan di sekitar kita, sarapan tradisional, menyimak berita. Ketika kita produktif di pagi hari, semangat tersebut akan terus terbawa sepanjang hari. Beda halnya jika sy bangun kesiangan. Hiruk-pikuk motor dan mobil sudah meraung sana-sini, membuat sy merasa tergesa-gesa. Hari ini, saya merasa lebih produktif di kantor, bisa berpikir lebih jernih dan tenang, di tengah2 kesibukan dan tekanan pekerjaan. Dan mengakhiri hari dengan sebuah kepuasan tersendiri.
Buat saya, pergi ke pasar di subuh, merupakan salah satu bentuk refreshing tersendiri. Baik juga untuk melepaskan kepenatan di kantoran sehari-hari.
See the life from other perspective.
ada pepatah Cina kuno yg mengatakan:
satu jam di pagi hari, lebih bernilai daripada dua jam di malam hari.
sy merasa paling produktif di pagi hari. Artikel ini sy tulis untuk mengingatkan diri sy sendiri akan betapa berbedanya kita melihat dunia, jika saja kita mau bangun 1-2 jam lebih awal.
Perbedaan kecil-kecil dalam bagaimana kita memulai dan menjalani hari-hari kita, akan menbawa dampak signifikan seiring berjalannya waktu.
Friday, November 5, 2010
Thursday, November 4, 2010
mendengarkan
jadi ceritanya gini:
baru-baru ini kita menemukan bug (isu) di produk salah satu vendor kita.
Vendor ini adalah perusahaan multinasional yg cukup terkenal di bidang modul GPS.
Sebut saja vendor X.
Application Engineer di Vendor X ini, entah karena terlalu sibuk atau karena sikap yg tidak baik, bertindak seolah-olah tidak ada isu tersebut.
Setelah kami kirim balik modul itu, beliau bersikeras tidak ada masalah. Kemudian kami tantang metode troubleshootingnya. sangat tidak memuaskan. bahkan saya rasa testing di tempat kami jauh melebihi testing di tempat vendor X, padahal mereka adalah sang manufaktur.
Saya masih bisa maklum, karena mungkin si doi terlalu banyak case, jadi ga sempet bikin analisis mendalam. Beberapa hari kemudian, datanglah si doi, bersama, sebut saja Mr. R, yg mengaku bagian Business DEvelopment.
Dalam diskusi tersebut, Mr. R selalu mencekoki kami dengan dokumen2 yg mengkonfirmasi performance modul mereka. Sikap ini sangat arogan. Tim kami bertanya, bukan karena kami awam, atau tidak mengerti sama sekali teknologi GPS. Kami ingin berdiskusi dengan mereka. Namun dari Vendor X, sikap yg diberikan adalah "We know better than You. Just sit there and listen".
mereka mencekoki kami dengan fakta2 dari dokumen2. Dalam dunia engineering, dokumen adalah satu hal, performance dalam real case adalah hal lain. Akhirnya kami mengmabil sikap pasif, malas berdebat. Bug tersebut pun terbukti adalah Design Fault dari Vendor X. Namun mereka berusaha menghindar, dan tidak mau mengakui hal tersebut.
Hasilnya adalah, kami memblack-list vendor ini dari supplier list untuk produk-produk ke depan kami.
Moral of the story adalah: LIsten to your customer.
ini berlaku juga dalam hubungan antar sesama. Seringkali kita merasa hebat, dan tau segalanya. Sehingga ketika ada rekan bertanya, kita mencekoki mereka dengan fakta-fakta yg kita hafal dalam pemikiran kita. Seringkali mereka bertanya untuk berdiskusi. Namun jika kita mengambil sikap menguliahi, maka lawan bicara akan diam, pasif. Kita merasa makin hebat, karena mereka seperti terpesona oleh kepintaran kita, makin berkobar2 kita kuliahi mereka. Saya pun pernah bersikap seperti ini, dan mungkin juga tidak luput dari cacat ini.
Namun, saya menemukan bahwa ketika kita belajar mendengarkan, sebelum menyemburkan fakta2, kita akan lebih bijaksana. Seringkali saya menemukan bahwa penanya bukannya tidak tahu fakta2 tersebut, mereka hanya ingin bertukar pikiran. Jika kita sibuk menyemprot mereka, jadilah kita seperti katak dalam tempurung, rasa diri makin hebat, padahal pikiran kita makin sempit, dan terbatas.
besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya
Mari kita belajar menemukan kebenaran, lewat proses mengupas bawang. Satu per satu dipikirkan dan didiskusikan. Kebenaran yg sejati tidak pernah takut untuk dipertanyakan. Ia akan dengan rendah hati, membawa kita selangkah demi selangkah, makin menyadari betapa dalamnya Kebenaran itu. Ia tidak mencekoki dengan teori2, fakta2. Ia senang akan pertanyaan, karena melalui pertanyaan, akan ada proses berpikir yg menuntun pada Kebenaran itu sendiri.
inilah hikmah dari ilmu padi, makin berisi makin menunduk
makin berisi, makin tidak takut dipertanyakan
makin berisi, makin Ia terbuka untuk diskusi dan proses berpikir yang sehat.
baru-baru ini kita menemukan bug (isu) di produk salah satu vendor kita.
Vendor ini adalah perusahaan multinasional yg cukup terkenal di bidang modul GPS.
Sebut saja vendor X.
Application Engineer di Vendor X ini, entah karena terlalu sibuk atau karena sikap yg tidak baik, bertindak seolah-olah tidak ada isu tersebut.
Setelah kami kirim balik modul itu, beliau bersikeras tidak ada masalah. Kemudian kami tantang metode troubleshootingnya. sangat tidak memuaskan. bahkan saya rasa testing di tempat kami jauh melebihi testing di tempat vendor X, padahal mereka adalah sang manufaktur.
Saya masih bisa maklum, karena mungkin si doi terlalu banyak case, jadi ga sempet bikin analisis mendalam. Beberapa hari kemudian, datanglah si doi, bersama, sebut saja Mr. R, yg mengaku bagian Business DEvelopment.
Dalam diskusi tersebut, Mr. R selalu mencekoki kami dengan dokumen2 yg mengkonfirmasi performance modul mereka. Sikap ini sangat arogan. Tim kami bertanya, bukan karena kami awam, atau tidak mengerti sama sekali teknologi GPS. Kami ingin berdiskusi dengan mereka. Namun dari Vendor X, sikap yg diberikan adalah "We know better than You. Just sit there and listen".
mereka mencekoki kami dengan fakta2 dari dokumen2. Dalam dunia engineering, dokumen adalah satu hal, performance dalam real case adalah hal lain. Akhirnya kami mengmabil sikap pasif, malas berdebat. Bug tersebut pun terbukti adalah Design Fault dari Vendor X. Namun mereka berusaha menghindar, dan tidak mau mengakui hal tersebut.
Hasilnya adalah, kami memblack-list vendor ini dari supplier list untuk produk-produk ke depan kami.
Moral of the story adalah: LIsten to your customer.
ini berlaku juga dalam hubungan antar sesama. Seringkali kita merasa hebat, dan tau segalanya. Sehingga ketika ada rekan bertanya, kita mencekoki mereka dengan fakta-fakta yg kita hafal dalam pemikiran kita. Seringkali mereka bertanya untuk berdiskusi. Namun jika kita mengambil sikap menguliahi, maka lawan bicara akan diam, pasif. Kita merasa makin hebat, karena mereka seperti terpesona oleh kepintaran kita, makin berkobar2 kita kuliahi mereka. Saya pun pernah bersikap seperti ini, dan mungkin juga tidak luput dari cacat ini.
Namun, saya menemukan bahwa ketika kita belajar mendengarkan, sebelum menyemburkan fakta2, kita akan lebih bijaksana. Seringkali saya menemukan bahwa penanya bukannya tidak tahu fakta2 tersebut, mereka hanya ingin bertukar pikiran. Jika kita sibuk menyemprot mereka, jadilah kita seperti katak dalam tempurung, rasa diri makin hebat, padahal pikiran kita makin sempit, dan terbatas.
besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya
Mari kita belajar menemukan kebenaran, lewat proses mengupas bawang. Satu per satu dipikirkan dan didiskusikan. Kebenaran yg sejati tidak pernah takut untuk dipertanyakan. Ia akan dengan rendah hati, membawa kita selangkah demi selangkah, makin menyadari betapa dalamnya Kebenaran itu. Ia tidak mencekoki dengan teori2, fakta2. Ia senang akan pertanyaan, karena melalui pertanyaan, akan ada proses berpikir yg menuntun pada Kebenaran itu sendiri.
inilah hikmah dari ilmu padi, makin berisi makin menunduk
makin berisi, makin tidak takut dipertanyakan
makin berisi, makin Ia terbuka untuk diskusi dan proses berpikir yang sehat.
Wednesday, October 13, 2010
Konser Paduan Suara
Usai kerja, CEO, CTO, Kepala Admin, dan staf senior bagian produksi, kami berlima menghadiri konser paduan suara.
Harga tiket 240NTD (sekitar 75ribu IDR). Vicky, istri dari CEO kami, Andy, tampil dalam konser tersebut.
Ini pengalaman pertama saya nonton konser paduan suara. Konser ini digelar oleh perhimpunan guru musik, khususnya guru wanita. Ada sekitar 40 orang guru yg berpartisipasi. Di Taiwan, ketika seorang disapa sebagai guru, berarti dia punya keahlian teknik dan pengalaman yg mendalam di bidang tersebut. Sebagian besar mereka yg tampil malam ini lulusan jurusan musik luar negeri. Hadir pula konduktor nomer wahid seTaiwan yg adalah kakek guru dari Vicky.
Sebagaimana di negara-negara lain, sebagian besar ahli musik yg sampai belajar musik secara mendalam (red: ke luar negeri), datang dari kalangan menengah ke atas. Konser ini lebih merupakan konser yg dihadiri oleh kalangan keluarga, kerabat, dan komunitas dari guru-guru tersebut. Penonton yg hadir malam ini termasuk sangat berkelas. Namun, hal yg patut kita pelajari adalah, kesehajaan masyarakat Taiwan. Mereka tidak tampil dengan pernak-pernik mewah, tp dengan dandanan yg formal dan cukup good-looking saja. tidak berlebih-lebihan, walaupun dibalik semua itu, tersimpan "kesaktian" dan tidak jarang kekayaan material mereka masing-masing. CEO, CTO pun mengenakan seragam kantor yg sama dgn yg saya kenakan.
Selain momen berharga ini, ketika pulang dari konser, saya satu kereta dengan staf senior produksi. Usia beliau sama dengan usia ibu saya. 54 tahun tepatnya usia si tante. Beliau juga merupakan staff yg bergabung dari awal berdirinya perusahaan kami, 8 tahun silam. Beliau mengisahkan bahwa sebelum bekerja di tempat ini, beliau dan suami mengembangkan usaha di bidang plastik. Bekerja belasan jam sehari. Selain tidur, hanya bekerja. Beliau mengisahkan bahwa pada masa-masa awal berdirinya perusahaan kami, Andy pun bekerja belasan jam per hari. Usia Andy saat itu 24 tahun. Melihat perjuangan Andy, beliau kagum kepada anak muda yg satu ini. Banting tulang mengembangkan usahanya. Beliau sendiri sebenarnya bekerja di perusahaan kami, hanya untuk mengisi waktu senggang, daripada bengong di rumah. Perusahaan mereka sendiri beroperasi hingga 2 tahun yang lalu.
Melihat etos kerja masyarakat Taiwan, tidaklah heran jika mereka berevolusi dari bangsa nelayan menjadi bangsa hi-tech dalam kurun waktu 30 tahunan saja.
Beliau sempat nyeletuk, satu hal yg cukup menonjok buat saya jg. "Anak muda sekarang, begitu ada prestasi sedikit langsung kendor."
Ini juga mengingatkan saya akan semboyan "Raise your bar" yg menjadi slogan di GE.
Berapakah usia saya sekarang? Apakah saya sudah mengerahkan segenap tenaga saya untuk melangkah ke arah perwujudan cita-cita?
Harga tiket 240NTD (sekitar 75ribu IDR). Vicky, istri dari CEO kami, Andy, tampil dalam konser tersebut.
Ini pengalaman pertama saya nonton konser paduan suara. Konser ini digelar oleh perhimpunan guru musik, khususnya guru wanita. Ada sekitar 40 orang guru yg berpartisipasi. Di Taiwan, ketika seorang disapa sebagai guru, berarti dia punya keahlian teknik dan pengalaman yg mendalam di bidang tersebut. Sebagian besar mereka yg tampil malam ini lulusan jurusan musik luar negeri. Hadir pula konduktor nomer wahid seTaiwan yg adalah kakek guru dari Vicky.
Sebagaimana di negara-negara lain, sebagian besar ahli musik yg sampai belajar musik secara mendalam (red: ke luar negeri), datang dari kalangan menengah ke atas. Konser ini lebih merupakan konser yg dihadiri oleh kalangan keluarga, kerabat, dan komunitas dari guru-guru tersebut. Penonton yg hadir malam ini termasuk sangat berkelas. Namun, hal yg patut kita pelajari adalah, kesehajaan masyarakat Taiwan. Mereka tidak tampil dengan pernak-pernik mewah, tp dengan dandanan yg formal dan cukup good-looking saja. tidak berlebih-lebihan, walaupun dibalik semua itu, tersimpan "kesaktian" dan tidak jarang kekayaan material mereka masing-masing. CEO, CTO pun mengenakan seragam kantor yg sama dgn yg saya kenakan.
Selain momen berharga ini, ketika pulang dari konser, saya satu kereta dengan staf senior produksi. Usia beliau sama dengan usia ibu saya. 54 tahun tepatnya usia si tante. Beliau juga merupakan staff yg bergabung dari awal berdirinya perusahaan kami, 8 tahun silam. Beliau mengisahkan bahwa sebelum bekerja di tempat ini, beliau dan suami mengembangkan usaha di bidang plastik. Bekerja belasan jam sehari. Selain tidur, hanya bekerja. Beliau mengisahkan bahwa pada masa-masa awal berdirinya perusahaan kami, Andy pun bekerja belasan jam per hari. Usia Andy saat itu 24 tahun. Melihat perjuangan Andy, beliau kagum kepada anak muda yg satu ini. Banting tulang mengembangkan usahanya. Beliau sendiri sebenarnya bekerja di perusahaan kami, hanya untuk mengisi waktu senggang, daripada bengong di rumah. Perusahaan mereka sendiri beroperasi hingga 2 tahun yang lalu.
Melihat etos kerja masyarakat Taiwan, tidaklah heran jika mereka berevolusi dari bangsa nelayan menjadi bangsa hi-tech dalam kurun waktu 30 tahunan saja.
Beliau sempat nyeletuk, satu hal yg cukup menonjok buat saya jg. "Anak muda sekarang, begitu ada prestasi sedikit langsung kendor."
Ini juga mengingatkan saya akan semboyan "Raise your bar" yg menjadi slogan di GE.
Berapakah usia saya sekarang? Apakah saya sudah mengerahkan segenap tenaga saya untuk melangkah ke arah perwujudan cita-cita?
Tuesday, October 12, 2010
PMP under my Belt
Hari ini jerih lelah selama tahun 2005 - 2010, akhirnya divalidasi dengan sertifikasi PMP.
Banyak pengorbanan yg sudah dijalani, dari belajar buat ujian semester dalam angkot, begadang mengkoordinir pelaksanaan dilapangan, sementara pagi besok ujian, menghadapi kepala preman stasiun Hall, Bandung, ketiduran pas kuliah, banyak lagi kisah yg tak terlupakan lainnya. Semua itu mengukuhkan pengalaman dan kompetensi dalam dunia manajemen proyek.
Mulai dari proyek instalasi peralatan medis di rumah sakit tanah air, sampai proyek pengembangan devais pelacak di Taiwan. Setiap momen punya ceritanya sendiri.
Hari ini saya menjalani ujian online Prometric, untuk mendapatkan sertifikasi Project Management Professional (PMP) dari Project Management Institute.
Sertifikasi ini diakui secara internasional. Terlebih lagi di dunia hi-tech, di mana perusahaan hidup dari proyek-proyek bersama kliennya.
Ini adalah sebuah langkah awal. CEO dan Vice President tempat saya bekerja, keduanya pernah mendalami PMP. Dan saya melihat bahwa PMP memberikan fondasi yg tidak kalah kuatnya dibanding dengan program MBA. MBA dalam industri HI-tech seringkali tidak dapat beradaptasi dengan tuntutan inovasi dan kecepatan perubahan di dunia Hi-tech.
Hal ini dikukuhkan dengan komentar dari profesor manajemen salah satu universitas di Taiwan (teman satu angkatan PMP saya).
mungkin tidak lah berlebihan jika PMP dinobatkan sebagai Master in Hi-Tech Business Administration. Mungkin tahun-tahun mendatang, akan ada gelar MHBA sejajar dengan gelar MBA)
Banyak pengorbanan yg sudah dijalani, dari belajar buat ujian semester dalam angkot, begadang mengkoordinir pelaksanaan dilapangan, sementara pagi besok ujian, menghadapi kepala preman stasiun Hall, Bandung, ketiduran pas kuliah, banyak lagi kisah yg tak terlupakan lainnya. Semua itu mengukuhkan pengalaman dan kompetensi dalam dunia manajemen proyek.
Mulai dari proyek instalasi peralatan medis di rumah sakit tanah air, sampai proyek pengembangan devais pelacak di Taiwan. Setiap momen punya ceritanya sendiri.
Hari ini saya menjalani ujian online Prometric, untuk mendapatkan sertifikasi Project Management Professional (PMP) dari Project Management Institute.
Sertifikasi ini diakui secara internasional. Terlebih lagi di dunia hi-tech, di mana perusahaan hidup dari proyek-proyek bersama kliennya.
Ini adalah sebuah langkah awal. CEO dan Vice President tempat saya bekerja, keduanya pernah mendalami PMP. Dan saya melihat bahwa PMP memberikan fondasi yg tidak kalah kuatnya dibanding dengan program MBA. MBA dalam industri HI-tech seringkali tidak dapat beradaptasi dengan tuntutan inovasi dan kecepatan perubahan di dunia Hi-tech.
Hal ini dikukuhkan dengan komentar dari profesor manajemen salah satu universitas di Taiwan (teman satu angkatan PMP saya).
mungkin tidak lah berlebihan jika PMP dinobatkan sebagai Master in Hi-Tech Business Administration. Mungkin tahun-tahun mendatang, akan ada gelar MHBA sejajar dengan gelar MBA)
Sunday, October 10, 2010
5 lagi
Pagi ini bangun jam 5 lagi.
Dalam 1 jam mereview materi PMP, merencanakan strategi, menulis perencanaan pemanfaatan waktu hari ini. Push-up 1 set.
6.30.
It's awesome so much things we get done, if only we wakes up 1-2 hours earlier.
Dalam 1 jam mereview materi PMP, merencanakan strategi, menulis perencanaan pemanfaatan waktu hari ini. Push-up 1 set.
6.30.
It's awesome so much things we get done, if only we wakes up 1-2 hours earlier.
Wednesday, October 6, 2010
One Brick Entrepreneurs 101006
Orang adalah milik perusahaan yg paling penting.
Perusahaan yg berbesar hati dalam meningkatkan daya kerja, keterampilan dan moral pekerjanya, niscaya tidak akan kekurangan orang-orang terbaik yg bekerja baginya dan menghebatkannya.
Perusahaan yg berbesar hati dalam meningkatkan daya kerja, keterampilan dan moral pekerjanya, niscaya tidak akan kekurangan orang-orang terbaik yg bekerja baginya dan menghebatkannya.
ICE 2008 a draft
Ceritanya diminta untuk bikin artikel, membagikan pengalaman ICE (Indonesian Culture Exhibition) 2008 di kampus NTUST.
ada beberapa ide, jadi sy tuangkan di sini aja, sekalian jadi kanvas buat scribbl-ing ide2...
langsung aja...ga pake lama...
A door to the heart of NTUST. That's what comes to my mind when i think of ICE 2008. I was part of the ICE committee, in charged of Equipments team(stage, sound system, chairs, tables, billboard, anything that can be categorized as one). It means I need to contact many people, find resources, negotiate, and put them all together in time, and on spot. I and my teammate went to library basement to find loudspeaker, rushed to student affairs to book class room for rehearsing, negotiate with banner publisher at Post office basement cafeteria, juggling through campus buildings and offices. From all of these encounters, I met with NTUST front-line workers, up to leading authorities. I was amazed by the attitude of NTUST employees, which gives such warmth welcome and support to our needs, despite our lack of Chinese proficiency. There were lots of 比手劃腳 moments that make me smile now, as i ponder those days. The front-line employees attitude reflects morale of the entire organization, I believe. It is indeed true, when i met authorities at OIA, Student Affairs, and Faculty members.
Along with these awesome support from NTUST as an organization, ICE 2008 gave us chances to interact with NTUST students. NTUST becomes our home away from home with their warmth friendship. I and my friend Sandy were asked to anchor ICE, a couple weeks before d-day. Me and Sandy met with Ann, a warm and friendly NTUST fellow. She introduces us to local daily life and custom, growing our appreciation on Taiwanese culture and way of life. I am astonished by NTUST vision on internationalization. We met as students, learnt and aspired each other culture and uniqueness, enhancing global perspective. After graduating from NTUST, as today's students metamorphose into tomorrow's leaders, these precious moments treasured on NTUST village, will surely bridge the two great nation: Indonesian and Taiwanese for mutual understanding, as the citizen of the world. Amigos Para Siempre.
-wes ngono wae. matur nuwun-
ada beberapa ide, jadi sy tuangkan di sini aja, sekalian jadi kanvas buat scribbl-ing ide2...
langsung aja...ga pake lama...
A door to the heart of NTUST. That's what comes to my mind when i think of ICE 2008. I was part of the ICE committee, in charged of Equipments team(stage, sound system, chairs, tables, billboard, anything that can be categorized as one). It means I need to contact many people, find resources, negotiate, and put them all together in time, and on spot. I and my teammate went to library basement to find loudspeaker, rushed to student affairs to book class room for rehearsing, negotiate with banner publisher at Post office basement cafeteria, juggling through campus buildings and offices. From all of these encounters, I met with NTUST front-line workers, up to leading authorities. I was amazed by the attitude of NTUST employees, which gives such warmth welcome and support to our needs, despite our lack of Chinese proficiency. There were lots of 比手劃腳 moments that make me smile now, as i ponder those days. The front-line employees attitude reflects morale of the entire organization, I believe. It is indeed true, when i met authorities at OIA, Student Affairs, and Faculty members.
Along with these awesome support from NTUST as an organization, ICE 2008 gave us chances to interact with NTUST students. NTUST becomes our home away from home with their warmth friendship. I and my friend Sandy were asked to anchor ICE, a couple weeks before d-day. Me and Sandy met with Ann, a warm and friendly NTUST fellow. She introduces us to local daily life and custom, growing our appreciation on Taiwanese culture and way of life. I am astonished by NTUST vision on internationalization. We met as students, learnt and aspired each other culture and uniqueness, enhancing global perspective. After graduating from NTUST, as today's students metamorphose into tomorrow's leaders, these precious moments treasured on NTUST village, will surely bridge the two great nation: Indonesian and Taiwanese for mutual understanding, as the citizen of the world. Amigos Para Siempre.
-wes ngono wae. matur nuwun-
Subscribe to:
Posts (Atom)