Friday, July 15, 2011

The Law of Motivation

been reading a book called: " The One-Life solution" by Dr. Henry Cloud.

often, when we forget that we are in charge of our own life, we drift into complainer's world. We complain about weather, complain about our boss, complain about our job, complain about anything..you name it.

The fact is that we forgot, or choose to forget that we are responsible for our own life. We are here by our choice. We have options. Not to rule out that "Man plans in his heart, but God direct his way". Put these two arguments in balance perspective, is what redefine our thoughts.

We can be more grateful, if we fully realize that we are here by our choice. We can be more motivated, when we fully aware that where we'll be tomorrow is also a vote where our voice matters.

Knowing that we choose our way, also give endurance to battle hardship, when it comes to pursuing our dream.

Monday, December 20, 2010

Mengayomi

istilah keren buat mengayomi, mungkin bisa dipadankan dengan "Servant Leadership".

seorang pemimpin adalah orang yg mengayomi org2 yg dipimpinnya.

ingatlah bahwa ketika kita dipercaya untuk memimpin, org2 yg dipimpin akan menaruh ekspektasi pada diri kita. Kita diharapkan untuk mengayomi.

sy bukan ahli bahasa Jawa, namun sepengetahuan saya, memang inilah makna dari mengayomi.

mari kita tidak berhenti untuk belajar menjadi servant leader.

請你喝一杯咖啡

Qing Ni He Yi Bei Ka Fei

artinya:"gw traktir minum kopi"

seingat saya, kata-kata ini jarang kita temui di negri kita sendiri.

yg ada:"gw traktir makan", "gw traktir minum", dll

di Taiwan, ungkapan ini cukup sering kita temui.

Why?

Apakah berarti Kopi merupakan minuman elit di Taiwan?
sy ga bisa memberi jawaban objektif.

yg jelas, di toserba2 Taiwan, sering kita temui "Kopi Mandheling" dari Sumatra, di antara jajaran kopi2.

Sebenarnya, Indonesia dikenal sebagai penghasil Kopi papan atas, di kalangan masyarakat Internasional.

Boleh donk kita bangga.

Ada sekilas angan-angan untuk punya kebun kopi, disertai kolam ikan yg menggunakan pompa bertenaga surya. Kemarin kebetulan baru mengunjungi sebuah kolam percontohan di NTU (National Taiwan University). Di tengah kolam tersebut, terdapat pompa air yg digerakkan oleh panel tenaga matahari. Dengan demikian, ketika ada tenaga matahari yg cukup, maka pompa akan memompa air, menyemburkannya ke atas permukaan kolam, guna menambah kandungan oksigen pada perairan kolam. Solusi yg simple, namun cukup cerdas.

Otomasi dan Otoenergi pertanian, perikanan, peternakan, mungkin banyak peluang yg bisa kita gali.

Friday, December 10, 2010

Awal dan Akhir

Setiap awal selalu ada akhir.

Hari ini ceritanya pindahan kantor. Bukan pindah kerja, tapi maksudnya gedung kantornya yg pindah.

jadilah hari ini kerja bakti, bersih2 kantor lama. Berhubung gedung kantor lama statusnya sewa. Ketika dikembalikan ke Penyewa, musti dalam keadaan rapi dan bersih.

Setelah semua OA (office accessories) dipindahkan. Tinggallah ruang-ruang kosong.

Saya baru 15 bulan bekerja di tempat ini. Namun sudah banyak kenangan terhadap tempat ini.

Di sela-sela bersih-bersih, saya sempat sekilah mendapati si Bos, duduk dan merenung. Tampaknya sedang "melow" mode on.
dari 2002, perusahaan ini dirintis, di gedung ini. Mulai dari satu petak, kemudian jadi 2 lantai, 3 lantai, sampai tahun kemarin menjadi 4 lantai. Tentu bagi beliau ini adalah tempat di mana ia telah berjuang banting tulang selama 8 tahun ini membangun perusahaan ini. Gimanapun, pasti ada suatu ikatan batin dengan gedung ini.

Kenyataan bahwa kami pindah ke kantor baru yg lebih luas, modern, dan bergengsi membuat momen ini menjadi momen untuk mengenang dan bersyukur, dan bukan mengenang dan menyesali.

Gedung kantor adalah sebuah benda fisik. Apa yg membuat kita akan rindu dengan gedung ini, sebenarnya adalah kehadiran rekan-rekan kerja kita.
Seringkali kita gunakan kata:
saya kangen rumah
saya kangen kampung halaman
saya kangen negri saya.

Walaupun secara linguistik, kalimat tersebut merujuk pada benda fisik, sebenarnya yg membuat tempat-tempat tersebut berartilah yg menggugah rasa kangen di hati kita.
Kebersamaan dengan teman-teman, suka dan duka, marahan dan baikan. It's all part of memory that make us misses that moment.

Sama halnya ketika kita ditinggalkan orang-orang yg kita kasihi. Kita besedih, menangis, karena walau secara fisik, tubuhnya masih di depan mata kita, secara kehadiran, dia tidak mungkin lagi bersama kita.

Di dunia religi, kehadiran ini identik dengan istilah roh. Kalo bahasa Inggrisnya: Spirit.

Kembali ke soal pindahan kantor tadi, Spirit dari gedung kantor lama, itulah yg akan membuat kita kangen.
Bayangkan kalo kita kangen, trus kembali ke gedung tersebut, sendiri.
Pasti kita akan merasa garing.
Ini bukti bahwa we miss the spirit, not the physical body.

Dulu saya sering menggunakan istilah Hadirat (English: Presence), tanpa mengerti makna yg terkandung di dalamnya.
Sekarang ketika menyebutkan istilah Hadirat, i know what it means.

Lalu apa hubungannya dengan Awal dan Akhir?

Ketika kita hidup sebagai makhluk sosial, ada waktu dimana kita mulai mengenal seseorang, dan mulai akrab. Lalu kita mulai merasakan hadirat teman kita tersebut.
Ketika kita berpisah karena satu dan lain hal, kita akan merasa kehilangan.
Ini adalah sesuatu yg wajar.
Bahwa segala sesuatu yg diawali, akhirnya akan berakhir.

Waktu sangat singkat. Kita tidak bisa membendung perubahan-perubahan yg dibawa oleh waktu. Namun, pastikan bahwa setiap waktu kita kelola menjadi momen-momen berharga.
Karena hadirat suatu saat pun akan berakhir. Kita hanya dapat mengelola sebaik-baiknya, dan bersyukur untuk setiap hadirat yg kita lalui bersama.
Dengan harapan, bahwa ketika akhirnya tiba, momen-momen itu menjadi kenangan manis dalam diri kita. Sama seperti hari ini menjadi momen yg manis bagi Bos saya, saya dan teman-teman kantor.

-Ajarilah kami menghitung hari-hari kami, agar kami beroleh hati bijaksana-

Friday, November 5, 2010

ke pasar

hari ini bangun jam 5 pagi. setelah menenangkan pikiran, sy memutuskan untuk jogging.

lari pagi keliling-keliling. Hal yg sudah berbulan-bulan tidak saya lakukan.

segar sekali rasanya bisa menghirup udara jam 6 pagi, dan melihat sisi lain dari pemukiman sekitar. Biasanya cuman lihat dijam 8 pagi, atau malam hari. Jam 6 pagi, memberikan kesan tersendiri.

seusai jogging, sy berkeliling ke pasar tradisional.

Pasar tradisional ini penuh dengan pedagang2 yg memulai hari mereka, di kala mentari masih belum menyingsing.

satu hal yg saya suka dari pasar tradisional adalah energinya. Setiap orang aktif bergerak. Ada yg datang dari jauh, membawa hasil kebunnya. Aroma sayur-mayur segar yg baru saja dipetik juga semerbak. Tentu tidak ketinggalan amis dari ikan dan daging yg dijual. Melihat giatnya para pedagang di pasar, membuat saya bersyukur dan juga bersemangat memulai hari.

Selama ini sarapan biasanya menu 7-11. Pagi ini sy coba-coba sarapan klasik ala pasar tradisional. Bubur+Ubi jalar, dan dua potong tahu, sambil menyimak berita BBC.

Olahraga, mengamati lingkungan sekitar, mencermati kehidupan di sekitar kita, sarapan tradisional, menyimak berita. Ketika kita produktif di pagi hari, semangat tersebut akan terus terbawa sepanjang hari. Beda halnya jika sy bangun kesiangan. Hiruk-pikuk motor dan mobil sudah meraung sana-sini, membuat sy merasa tergesa-gesa. Hari ini, saya merasa lebih produktif di kantor, bisa berpikir lebih jernih dan tenang, di tengah2 kesibukan dan tekanan pekerjaan. Dan mengakhiri hari dengan sebuah kepuasan tersendiri.

Buat saya, pergi ke pasar di subuh, merupakan salah satu bentuk refreshing tersendiri. Baik juga untuk melepaskan kepenatan di kantoran sehari-hari.
See the life from other perspective.

ada pepatah Cina kuno yg mengatakan:
satu jam di pagi hari, lebih bernilai daripada dua jam di malam hari.

sy merasa paling produktif di pagi hari. Artikel ini sy tulis untuk mengingatkan diri sy sendiri akan betapa berbedanya kita melihat dunia, jika saja kita mau bangun 1-2 jam lebih awal.

Perbedaan kecil-kecil dalam bagaimana kita memulai dan menjalani hari-hari kita, akan menbawa dampak signifikan seiring berjalannya waktu.

Thursday, November 4, 2010

mendengarkan

jadi ceritanya gini:

baru-baru ini kita menemukan bug (isu) di produk salah satu vendor kita.
Vendor ini adalah perusahaan multinasional yg cukup terkenal di bidang modul GPS.
Sebut saja vendor X.

Application Engineer di Vendor X ini, entah karena terlalu sibuk atau karena sikap yg tidak baik, bertindak seolah-olah tidak ada isu tersebut.
Setelah kami kirim balik modul itu, beliau bersikeras tidak ada masalah. Kemudian kami tantang metode troubleshootingnya. sangat tidak memuaskan. bahkan saya rasa testing di tempat kami jauh melebihi testing di tempat vendor X, padahal mereka adalah sang manufaktur.

Saya masih bisa maklum, karena mungkin si doi terlalu banyak case, jadi ga sempet bikin analisis mendalam. Beberapa hari kemudian, datanglah si doi, bersama, sebut saja Mr. R, yg mengaku bagian Business DEvelopment.

Dalam diskusi tersebut, Mr. R selalu mencekoki kami dengan dokumen2 yg mengkonfirmasi performance modul mereka. Sikap ini sangat arogan. Tim kami bertanya, bukan karena kami awam, atau tidak mengerti sama sekali teknologi GPS. Kami ingin berdiskusi dengan mereka. Namun dari Vendor X, sikap yg diberikan adalah "We know better than You. Just sit there and listen".

mereka mencekoki kami dengan fakta2 dari dokumen2. Dalam dunia engineering, dokumen adalah satu hal, performance dalam real case adalah hal lain. Akhirnya kami mengmabil sikap pasif, malas berdebat. Bug tersebut pun terbukti adalah Design Fault dari Vendor X. Namun mereka berusaha menghindar, dan tidak mau mengakui hal tersebut.

Hasilnya adalah, kami memblack-list vendor ini dari supplier list untuk produk-produk ke depan kami.

Moral of the story adalah: LIsten to your customer.

ini berlaku juga dalam hubungan antar sesama. Seringkali kita merasa hebat, dan tau segalanya. Sehingga ketika ada rekan bertanya, kita mencekoki mereka dengan fakta-fakta yg kita hafal dalam pemikiran kita. Seringkali mereka bertanya untuk berdiskusi. Namun jika kita mengambil sikap menguliahi, maka lawan bicara akan diam, pasif. Kita merasa makin hebat, karena mereka seperti terpesona oleh kepintaran kita, makin berkobar2 kita kuliahi mereka. Saya pun pernah bersikap seperti ini, dan mungkin juga tidak luput dari cacat ini.
Namun, saya menemukan bahwa ketika kita belajar mendengarkan, sebelum menyemburkan fakta2, kita akan lebih bijaksana. Seringkali saya menemukan bahwa penanya bukannya tidak tahu fakta2 tersebut, mereka hanya ingin bertukar pikiran. Jika kita sibuk menyemprot mereka, jadilah kita seperti katak dalam tempurung, rasa diri makin hebat, padahal pikiran kita makin sempit, dan terbatas.

besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya

Mari kita belajar menemukan kebenaran, lewat proses mengupas bawang. Satu per satu dipikirkan dan didiskusikan. Kebenaran yg sejati tidak pernah takut untuk dipertanyakan. Ia akan dengan rendah hati, membawa kita selangkah demi selangkah, makin menyadari betapa dalamnya Kebenaran itu. Ia tidak mencekoki dengan teori2, fakta2. Ia senang akan pertanyaan, karena melalui pertanyaan, akan ada proses berpikir yg menuntun pada Kebenaran itu sendiri.

inilah hikmah dari ilmu padi, makin berisi makin menunduk
makin berisi, makin tidak takut dipertanyakan
makin berisi, makin Ia terbuka untuk diskusi dan proses berpikir yang sehat.

Wednesday, October 13, 2010

Konser Paduan Suara

Usai kerja, CEO, CTO, Kepala Admin, dan staf senior bagian produksi, kami berlima menghadiri konser paduan suara.
Harga tiket 240NTD (sekitar 75ribu IDR). Vicky, istri dari CEO kami, Andy, tampil dalam konser tersebut.

Ini pengalaman pertama saya nonton konser paduan suara. Konser ini digelar oleh perhimpunan guru musik, khususnya guru wanita. Ada sekitar 40 orang guru yg berpartisipasi. Di Taiwan, ketika seorang disapa sebagai guru, berarti dia punya keahlian teknik dan pengalaman yg mendalam di bidang tersebut. Sebagian besar mereka yg tampil malam ini lulusan jurusan musik luar negeri. Hadir pula konduktor nomer wahid seTaiwan yg adalah kakek guru dari Vicky.

Sebagaimana di negara-negara lain, sebagian besar ahli musik yg sampai belajar musik secara mendalam (red: ke luar negeri), datang dari kalangan menengah ke atas. Konser ini lebih merupakan konser yg dihadiri oleh kalangan keluarga, kerabat, dan komunitas dari guru-guru tersebut. Penonton yg hadir malam ini termasuk sangat berkelas. Namun, hal yg patut kita pelajari adalah, kesehajaan masyarakat Taiwan. Mereka tidak tampil dengan pernak-pernik mewah, tp dengan dandanan yg formal dan cukup good-looking saja. tidak berlebih-lebihan, walaupun dibalik semua itu, tersimpan "kesaktian" dan tidak jarang kekayaan material mereka masing-masing. CEO, CTO pun mengenakan seragam kantor yg sama dgn yg saya kenakan.

Selain momen berharga ini, ketika pulang dari konser, saya satu kereta dengan staf senior produksi. Usia beliau sama dengan usia ibu saya. 54 tahun tepatnya usia si tante. Beliau juga merupakan staff yg bergabung dari awal berdirinya perusahaan kami, 8 tahun silam. Beliau mengisahkan bahwa sebelum bekerja di tempat ini, beliau dan suami mengembangkan usaha di bidang plastik. Bekerja belasan jam sehari. Selain tidur, hanya bekerja. Beliau mengisahkan bahwa pada masa-masa awal berdirinya perusahaan kami, Andy pun bekerja belasan jam per hari. Usia Andy saat itu 24 tahun. Melihat perjuangan Andy, beliau kagum kepada anak muda yg satu ini. Banting tulang mengembangkan usahanya. Beliau sendiri sebenarnya bekerja di perusahaan kami, hanya untuk mengisi waktu senggang, daripada bengong di rumah. Perusahaan mereka sendiri beroperasi hingga 2 tahun yang lalu.

Melihat etos kerja masyarakat Taiwan, tidaklah heran jika mereka berevolusi dari bangsa nelayan menjadi bangsa hi-tech dalam kurun waktu 30 tahunan saja.

Beliau sempat nyeletuk, satu hal yg cukup menonjok buat saya jg. "Anak muda sekarang, begitu ada prestasi sedikit langsung kendor."

Ini juga mengingatkan saya akan semboyan "Raise your bar" yg menjadi slogan di GE.

Berapakah usia saya sekarang? Apakah saya sudah mengerahkan segenap tenaga saya untuk melangkah ke arah perwujudan cita-cita?